Gonjang-ganjing Harga BBM

Ketidakpastian kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mempersempit ruang Bank Indonesia (BI) dalam memainkan bauran kebijakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Deputi Gubernur BI, Perry Warjiyo menyatakan, pihaknya hanya bisa memainkan kebijakan makroprudensial pada penyaluran kredit dari lima bauran kebijakan.

“Saat ini kita hanya bisa memainkan kebijakan makroprudensial penyaluran kredit aja, karena ketidakpastian kebijakan harga BBM ini,” ungkap Perry dalam acara Macroeconomic Policies for Sustainable Growth with Equity in East Asia, Yogyakarta, Rabu (15/5).

BI saat ini memiliki lima bauran kebijakan makro ekonomi yakni kebijakan suku bunga (BI rate), nilai tukar, pengendalian arus modal asing, makro prudensial dalam penyaluran kredit perbankan, dan koordinasi tim pengendali inflasi daerah (TPID). Bauran kebijakan itu dilakukan karena pemerintah memiliki ruang sempit dalam mendorong pertumbuhan sebagai akibat defisit fiskal.

Akan tetapi, kata Perry, BI kini tidak bisa memainkan kebijakan suku bunga dan nilai tukar. Hal ini terjadi karena ketidakpastian kebijakan kenaikan harga BBM yang memicu ekspektasi inflasi.

Diketahui, meski inflasi saat ini capai 5,6%, suku bunga acuan atau BI rate pada Mei kembali dipertahankan pada level 5,75%. Sementara itu, nilai tukar rupiah di sepanjang April 2013, masih bergerak melemah 0,05%, dan berada di kisaran Rp9.723 per dolar.

Sebagai perbandingan pada tahun 2010-2011, kata Perry, BI bisa menurunkan BI rate dengan kondisi inflasi yang relatif rendah. BI rate diturunkan secara bertahap dari 6,5% menjadi 5,75%.

“Apabila pemerintah langsung memutuskan kenaikan harga BBM, maka kita bisa memainkan kebijakan suku bunga dan nilai tukar,” tegas Perry. Dia mengungkapkan pihaknya telah melakukan simulasi dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi, suku bunga, dan makro ekonomi nasional.

Oleh karena itu, kata Perry, BI memainkan kebijakan makroprudensian melalui pengaturan alokasi kredit. Dia mencontohkan untuk mendorong penyaluran kredit ke sektor agrikultur dan UMKM dan membatasi penyaluran kredit sektor properti dan kendaraan bermotor.

“Kita dorong alokasi kredit perbankan ke sektor-sektor produktif ke pertumbuhan seperti agrikultur dan UMKM,” terangnya.

Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution sebelumnya mengungkapkan meski menjaga level BI rate, BI semakin mewaspadai tekanan inflasi yang berasal dari ekspektasi inflasi terkait dengan ketidakpastian kebijakan subsidi BBM. Sebab, ekspektasi inflasi menunjukkan kecenderungan meningkat ke pasar keuangan.

Kondisi tersebut tercermin pada hasil konsesus forecast yang menunjukkan peningkatan. Ekspektasi inflasi pada April 2013 mencapai 5,4% yoy, jauh lebih tinggi daripada bulan sebelumnya 5,1%. “Ekspektasi inflasi terindikasi mulai meningkat di pasar keuangan,” ujar Darmin. (Daniel Wesly Rudolf)

 

http://www.metrotvnews.com/metronews/read/2013/05/15/2/153793/Gonjang-ganjing-Harga-BBM-Persempit-Ruang-Kebijakan-BI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s